Kamis, 06 Juli 2023

Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi dalam Pembangunan Politik Indonesia

    

           Gambar 1. Peserta SSP Batch 2 Kelompok V usai pertemuan dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nasional dan Kedeputian V Kantor Staf Presiden


        Hari ini (Jumat, 7 Juli 2023) bersama dengan teman-teman Sekolah Staf Presiden (SSP) Batch 2 dan secara spesifik kelompok V, saya magang di Kedeputian V Kantor Staf Presiden. Deputi V merupakan bidang yang menangani isu tentang politik, hukum, pertahanan, keamanan dan hak asasi manusia. Magang yang dilakukan ini bukan sekadar pelatihan biasa melainkan magang yang ril sebab saya dan teman-teman ikut serta bekerja dan belajar terkait isu ril yang saat ini ditangani oleh Deputi V Kantor Staf Presiden.
        Pada sesi pertama kami diberikan kesempatan untuk ikut dalam dialog tentang bahasa yang dipaparkan oleh lembaga pengembangan dan pembangunan nasional dengan agenda literasi papua. Sebagai peserta sekolah staf presiden kami diperbolehkan untuk terlibat dalam sesi diskusi baik dengan memberikan saran dan kritik maupun mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang isu literasi sesuai dengan pemaparan yang telah diberikan. Kami tidak hanya berdiskusi dengan badan pengembangan dan pembangunan bahasa melainkan juga bersama dengan Bapak/Ibu dari Kedeputian V Kantor Staf Presiden termasuk Ibu Ketua Kedeputian yakni Ibu Jaleswari Pramodhawardan (sebuah kehormatan yang tak henti saya syukuri). Refleksi hasil dialog ini saya paparkan berikut ini. Sekiranya bermanfaat untuk teman-teman semua.
    Dalam pembangunan politik Indonesia tentu dibutuhkan sebuah komunikasi dan komunikasi membutuhkan bahasa. Bahasa menjadi media komunikasi atau perantara dalam menyampaikan sesuatu. Terlepas dari itu, hari ini Papua memiliki kondisi literasi yang masih memprihatinkan. Papua memiliki banyak bahasa daerah. Ada 3 program prioritas kebahasaan antara lain: literasi kebahasaan dan kesastraan, perlindungan bahasa dan sastra dan internasionalisasi bahasa. Bahasa tidak hanya sekadar perihal membaca melainkan bagaimana kita dapat berperspektif dalam berbagai sudut pandang. Lebih jauh, Ibu Kepala Kedeputian V mengatakan bahasa pada hakikatnya merupakan "way of life". Sehingga setiap hal yang menjadi persoalan tentang bahasa bukan merupakan hal yang biasa namun crucial sehingga sudah seharusnya kita menyelesaikannya. Bahasa memegang fungsi yang besar dalam komunikasi. Bagaimana kita merumuskan ide, gagasan, perspektif tentang hal tertentu jika kita tidak memiliki bahasa.
     Indonesia memiliki beragam bahasa daerah namun tetap disatukan dengan bahasa Indonesia guna mengomunikasikan banyak hal termasuk komunikasi dalam penyelesaian berbagai masalah. Sama seperti halnya agama, Islam menjadi agama yang  mayoritas di Indonesia namun tidak dijadikan sebagai agama negara. Demikian pun dengan bahasa. Walaupun mayoritas warga berbahasa Jawa, dan sebagainya namun tetap bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu. 
   Literasi perlu untuk ditingkatkan. Bahasa daerah harus dilestarikan dan kemajuan pengembangan bahasa perlu diperhatikan. Saat ini badan pengembangan dan pembinaan bahasa telah berhasil merumuskan berbagai fitur yang meningkatkan pengembangan bahasa seperti KBBI Edisi V, Penjaring Penerjemah Daring, Budi.kemdikbud.go.id. Fitur-fitur yang ada memudahkan masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan untuk mengakses bahan-bahan bacaan secara gratis. Dalam hal ini hemat biaya dan waktu. Pengguna dituntut untuk melek teknologi untuk selanjutnya dapat mengakses fitur-fitur yang ada. Adapun gen z diharapkan perlu untuk melek teknologi, ikut meningkatkan pengembangan kemampuan berbahasa dengan inovasi dan kreativitas yang dimiliki. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah melakukan berbagai program untuk meningkatkan pengembangan dan pembinaan bahasa.
    Persoalan literasi di Papua juga tengah ditangani oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berupa revitalisasi bahasa daerah, pelatihan komunitas yang bergerak di bidang literasi, dan pendampingan anak-anak dalam menggunakan fasilitas belajar seperti buku yang telah disediakan. Bahasa Indonesia telah diusulkan untuk menjadi Bahasa Resmi Sidang Umum UNESCO. Salah satu hal yang membuat saya bangga ialah ketika salah satu jajaran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengatakan jika salah satu daerah di Jakarta dinamakan Jaklingko yang terdiri atas kata "jak" dan "lingko". Jak artinya Jakarta dan lingko berasal dari bahasa daerah Manggarai. Jadi, Jaklingko merupakan perpaduan antara kata Jakarta dan lingko (bahasa daerah Manggarai).
    Sebagai pesannya, pengembangan dan pembinaan bahasa bukan hanya merupakan tugas badan pengembangan dan pembinaan bahasa. Bukan juga sekadar tugas Duta Bahasa melainkan tugas kita semua sebagai masyarakat Indonesia. Seperti yang selalu digaungkan dalam Tri Gatra Bangun Bahasa "utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing". Salam literasi!!!




Jakarta, 7 Juli 2023
Anansia Siena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi dalam Pembangunan Politik Indonesia

                  Gambar 1. Peserta SSP Batch 2 Kelompok V usai pertemuan dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nasional dan Kedepu...