"Meredam keraguan dengan keberanian untuk memulai"
Blog ini memuat tulisan-tulisan saya yang terinspirasi dari kehidupan nyata.
Kamis, 06 Juli 2023
Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi dalam Pembangunan Politik Indonesia
Minggu, 05 Maret 2023
You do you!!!
I guess, that's enough. Selamat mulai mempersiapkan diri untuk setiap rencana minggu ini teman-teman. Sehat dan bahagia selalu ~~~~~
Upsss, anyway!!! Kalo ga keberatan boleh dong share pendapat kalian tentang tulisan2 saya yang iseng2 ini. Kritik dan saran kalian sangat saya butuhkan hehehe. Kalo bermanfaat, jgn lupa dishare hehe biar yg lain kebagian berkatnya gesss. Thank you ya
Kupang, 5 Maret 2023
Siena
Minggu, 06 November 2022
The Source of Joy
Kebahagiaan adalah cita-cita kebanyakan orang. Tidak ada yang menolak bahagia. Tidak ada yang membenci kebahagiaan. Ataukah kamu membencinya? Hemat saya, sebagian besar kita mencintai kebahagiaan. Saya ingin kembali merefleksi renungan yang disampaikan oleh Romo Adit pada Sabtu, 5 Juni 2022. Hari yang mana sebagian besar anak muda memanfaatkannya untuk nongkrong dan kenikmatan lain yang memanjakan hati dan pikiran. Tetapi hari ini Dia membawa saya untuk barang sedikit menyingkirkan diri dari kenikmatan-kenikmatan tersebut melainkan bersapa dan berdialog dengan-Nya. Adalah suatu kehormatan dan kebahagian bagi saya yang tidak punya apa-apa dan ada dengan segala keterbatasan.
Mari kembali kepada refleksi saya....
Malam itu Dia hadir. Sungguh saya merasakannya. Cinta yang tidak akan pernah dapat disaingi oleh cinta manusia. Cinta yang tulus, besar dan kekal. Saya tidak ingin menghakimi siapapun tetapi murni refleksi ini adalah tentang diri saya. Saya selalu menginginkan kebahagiaan. Bahkan, tidak sedikit untaian doa saya selalu mendambakan hal-hal yang baik. Tuhan, saya ingin sehat. Tuhan, saya ingin lulus ini dan itu. Tuhan saya ingin Engkau anugerahkan kesehatan untuk orang tua saya, dan masih banyak lagi untaian doa dan permohonan akan hal baik yang terlalu panjang untuk saya ungkapkan di sini.
Dia tidak ingin saya berjalan pada jalan yang saya kehendaki. Sehingga kehendak saya tidak terjadi. Dengan kata lain, saya kerap menyebutnya dengan "doa saya tidak dikabulkan". Lalu, saya menangis. Menyalahkannya bahkan mencurigai Dia, Sang Empunya Kehidupan. Miris. Tetapi itu yang selalu saya lakukan. Kamu, saya dan kita acapkali datang kepada-Nya hanya ketika dilanda penderitaan. Memohon-mohon tanpa tahu malu. Dengan semena-mena kita meminta begitu banyak hal dan tanpa disadari kita menuntun Dia untuk harus memenuhi apa yang kita inginkan. Bersungut tanpa kenal lelah. Berlutut tanpa merasakan kesakitan bahkan waktu yang kerap kali hanya dihabiskan untuk kepentingan sendiri di saat-saat pahit itu sungguh hanya diberikan kepada-Nya.
Saat angan tak tergapai, kita dengan tanpa merasa bersalah menghardiknya. "Tuhan tidak adil. Tuhan tidak mencintai saya". Namun ketika kehendak-Mu adalah kehendak-Nya pula, apakah kamu datang untuk bersujud dan berterima kasih kepada-Nya? Nyatanya, kita tidak melakukannya. Situasi bahagia menghilangkan ingatan kita kepada Dia yang bekerja dan berkuasa sehingga semua-Nya terjadi. Saking bahagia, kita merayakannya tanpa menengok untuk barang semenit berucap "Engkau sungguh baik. Terima kasih, Tuhan".
Dia mengetahui yang paling terbaik untuk hidup kita. Saat doamu tidak Tuhan restui bukan karena Tuhan tidak mencintaimu sebaliknya Tuhan sungguh mencintaimu yang oleh karena cinta yang besar itu Tuhan tidak ingin kamu berjalan pada jalan tersebut karena Tuhan telah mempersiapkan jalan yang lebih baik daripada itu. Kita seringkali berpikir Tuhan menjawab doa kita sedikit terlambat tetapi tidak untuk Tuhan. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk menjawab doa kita.
Hidup dengan menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan akan memampukan kita bersukacita dalam duka. Mengucap syukur untuk setiap penolakan, luka dan penderitaan. Melihat masa depan dengan cerah dan masa lalu sebagai pelajaran yang tidak menggoyahkan tekad dan motivasi kita untuk bersukacita dalam pengharapan akan Tuhan Yesus. Karena di balik luka akan ada suka yang Tuhan telah persiapkan.
Usai hujan saja ada pelangi kan?
"Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak saya. Terjadilah padaku menurut perkataanMu" adalah doa yang sangat disarankan untuk kita sampaikan kepada-Nya. Terima kasih untuk Romo Adit dan teman2 PDKK yang selalu membantu untuk bertumbuh bersama sebagai anak muda yang takut akan Tuhan.
7 November 2022
Anansia Siena
Minggu, 12 Juni 2022
My Powerful Woman
Minggu, 05 Juni 2022
Astrid's Birthday
Rabu, 01 Juni 2022
Only Your Self that Yours
2 Minggu terakhir, I faced a problem that a bit funny if I've to remember that hehehe. But, one thing that I'm grateful is that in every single problem that I faced, I always got new insights that I guess it might be bekal for my future. Lemme share you here!
Kalian pernah ga punya sahabat? teman? atau pacar? Atau gini deh, do you guys still have parents? Ku pengen tahu lebih dalam bolehlah yah..... Seberapa besar sih sayang kalian sama orang-orang yang kalian kasihi? Lemme guess, y'all assuredly really love ur parents, your girl/boyfriend, ur best friend right? Siapa sih yang ga sayang sama ortunya. I my self, sangat mencintai orang tuaku, my best friend, my siblings even orang-orang yang baru ku kenal baik di komunitas, tanah rantau atau sekadar berpapasan ku telah menaruh rasa sayang pada mereka. Bahkan, for this time, I can't descirbe in word how much I love my beloved one especially my parents.
Tapi, sadar ga kalo ternyata siapapun mereka di luar diri kita sendiri bukanlah milik kita. Sama sekali BUKAN!! Pun sebaliknya, they have their own life, their own self that would be their ever after. This is the value that I would love to share y'all. Entah pacar, entah teman, entah orang tua, entah sahabat mereka bukan milik kita. Yang menjadi milik kita selamanya adalah diri kita sendiri.
Ketika kamu dibanjiri perasaan suka dan duka emang iya mereka bakal ada tetapi gimana bisa melewati semuanya dengan tetap penuh sukacita adalah DIRI KAMU SENDIRI. Right? Bukan berarti saya melarang teman-teman untuk mencintai orang-orang di sekeliling kalian. No way! I just want you guys tahu mencintai diri kalian for the first place. Tuhan juga mengharapkan kita mengasihi orang lain right? Tapi, ingat! Tuhan mengharapkan kamu mengasihi mereka sama seperti mengasihi diriMU sendiri.
Karena, we all have to recognize jika penolakan, kehilangan, perpisahan pasti akan selalu ada dalam kehidupan kita. It is totally wajar if you're sad, if you're cry, if you're feeling guilty, or etc. Tapi, yang tidak wajar adalah kamu terlarut dalam kesedihanmu sampai lupa kalo kamu masih punya hari yang panjang untuk kamu lalui. Waktu yang teramat panjang yang Tuhan sudah berikan dan untuk melewati hari-hari itu kamu butuh DIRI KAMU yang kuat, sehat, dan gigih. Cintai diri kamu dengan tetap bersukacita. Jangan terlarut dalam luka! Bangkit yuk! Go refresh! Or visit Gramedia to spend your time with reading book. Explore too much positive things to heal your heart bestieeee!
Perjalanan hidup ini masih panjang lho ternyata. Kalo kamu sedih terus, kalo kamu terlarut dalam masalah kamu terus, lalu gimana dong dengan masa depan kamu yang harusnya sangat cerah dan menunggu kamu untuk meraihnya. Jadi, pada dasarnya apapun yang terjadi dalam kehidupan ini harus dengan ketegaran dan penuh sukacita kita harus mampu lewati. Masalah pasti ada. Penolakan pasti ada tapi ayo jadikan itu sebagai pelajaran berharga untuk kamu memulai hari kamu yang baru. Do some reflection that might help you to know what kind of kekurangan yang kamu miliki yang membuat masalah itu terjadi. Find your beloved one untuk sharing. Pastinya, ketemu Tuhan karena Dia selalu ada untukMu.
Last but not be the least, this is for all powerful women out there, ga pernah dipungkiri kalo manusiawi punya perasaan cinta dengan laki-laki di luar sana. Poin yang pengen aku ingatkan adalah "Don't spend too much time untuk orang-orang yang tidak memperjuangkan kamu. Yang insecure dengan kesuksesan kamu. Raihlah cita-citaMu! Tetap bermimpi besar! Laki-laki yang kuat seharusnya sangat bangga memiliki kamu". Kalo ada penolakan, it is totally okay! Jangan terlarut dalam kesedihan. C'mon! Your future still waiting for you, girls! If they really love you, they will struggle for you not only by their words but more than that. It is ACTION! Cheers!
Kupang, 2 Juni 2022
Anansia Siena
Senin, 30 Mei 2022
Etika Ekologi Membasmi Krisis Lingkungan
Persoalan
yang berkaitan dengan lingkungan hidup hari ini menjadi salah satu bahasan
publik. Pasalnya, hampir semua media marak membicarakan hal ini. Selain itu,
berbagai kalangan melakukan begitu banyak gerakan untuk mengatasi permasalahan
ini tak terlepas pihak pemerintah mengeluarkan banyak kebijakan dalam bentuk
perjanjian dan peraturan antar negara. Namun, menelaah dari beberapa referensi
yang mengulas tentang lingkungan hidup, saya menyadari jika masalah lingkungan
hidup pada hakikatnya adalah persoalan moral yang merujuk pada perilaku manusia
sebagai ekosistem biotik. Ekosistem adalah interaksi (hubungan) timbal balik antara
makhluk hidup (hayati) dengan unsur-unsur non hayati (abiotik) dalam suatu wilayah
yang membentuk tatanan satu kesatuan. Sebagaimana diketahui, unsur hayati
meliputi tumbuhan, satwa atau hewan, mikroorganisme, dan manusia. Sedangkan
unsur non hayati merupakan unsur fisik dan kimia, seperti tanah, batuan, air,
udara, sinar matahari, curah hujan, suhu atau temperatur dan faktor iklim
lainnya, bahan anorganik (nitrogen, fosfat, karbon, dan sebagainya), serta
bahan organik (karbohidrat, protein, lemak, dan lain-lain). Hubungan timbal
balik yang dinamis dan seimbang terjadi antar unsur tersebut sehingga tercipta
lingkungan yang mendukung kehidupan makhluk hidup dalam ekosistem tersebut. Di
dalam ekosistem terjadi proses ekologi, yakni siklus materi dan energi antar
organisme dan anorganisme.
Lingkungan
hidup sebagai akibat dari hubungan timbal balik unsur dalam ekosistem merupakan
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Manik,
2016). Membahas tentang lingkungan hidup tidak akan terlepas dari lingkaran
makhluk hidup secara khusus manusia yang menurut KBBI adalah makhluk berakal
budi (mampu menguasai makhuk lain). Terutama dalam definisi lingkungan hidup di
atas secara jelas menyebutkan komponen “manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan
manusia…..”. Secara tersurat melalui definisi ini, kita dapat memahami jika
manusia secara sadar membutuhkan eksistensi lingkungan hidup bahkan pada
hakikatnya menghuni lingkungan hidup itu sendiri. Artinya, manusia memiliki
tanggung jawab untuk memelihara dan merawat lingkungan hidup itu agar terlihat
asri sehingga nyaman untuk ditempati dalam kegiatan berinteraksi setiap hari.
Namun, tidak dapat dielak bahwa realita menunjukkan jika masih ada manusia bersikap immoral terhadap
lingkungan hidup yang diyakini sebagai sumber kehidupannya. Mirisnya, tindakan
ini pun dilakukan secara sadar dan sengaja.
Sebut
saja, pada tahun 2013 PT Damagas membuang limbah cair ke laut. Sebelumnya
Perusahaan PT Damagas mengakibatkan Pabrik Industri Refenery terbakar hingga
memakan korban luka karena meluapnya minyak ke Laut Dumai. Ironisnya, masalah
ini belum tuntas, perusahaan diketahui publik membuang limbah pada malam hari
di Kawasan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)
I Cabang Dumai dengan jumlah yang tidak dapat diperkirakan. Dalam lingkup kecil yakni di Daerah Provinsi
NTT, masalah yang berkenaan dengan lingkungan hidup pun tidak sedikit terjadi.
Menurut data yang dicatat oleh Balai TN Matalawa, kebakaran hutan dan lahan
yang terjadi di kawasan Pulau Sumba pada tahun 2018 adalah 30 kali dengan total
luas dari seluruh kawasan adalah 181.475 hektar dan sebagian besar yang
terbakar adalah Kawasan Sumba Tengah. Bencana ini murni dilakukan secara
sengaja dan sadar oleh manusia. Beberapa ulasan permasalahan tersebut hanya
sebagian kecil dari begitu banyak persoalan yang nyata terjadi. Hal ini tentu
sangat memprihatinkan dan membuat saya kian menyadari dan dengan tegas
berpersepsi bahwa masalah lingkungan hidup pada hakikatnya persoalan moral.
Lingkungan
hidup tidak cukup dipandang sebagai persoalan teknis. Demikian pun, krisis ekologi
global yang terjadi dewasa ini adalah persoalan moral, krisis moral secara
global. Hemat saya, melakukan tindakan buruk secara sengaja dan sadar adalah
tindakan immoral terutama jika merugikan orang lain. Kita pun tidak dapat
mengelak realitas bahwa berbagai masalah lingkungan yang terjadi di era kini
sebagian besar diakibatkan karena perilaku manusia. Kerusakan dan pencemaran
yang terjadi pada unsur-unsur non hayati bersumber dari perilaku manusia yang
tamak, tidak bertanggung jawab, dan apatis. Tak heran, kita pun menyebutkan
bahwa manusia merupakan faktor utama penyebab pencemaran dan kerusakan
lingkungan.
Arne
Naess, seorang Filsuf Norwegia yang menciptakan istilah “Deep Ecology” mengatakan
bahwa krisis lingkungan hidup yang besar-besaran terjadi dewasa ini hanya dapat
diatasi dengan mendobrak manusia agar melakukan perubahan cara pandang dan
perilaku terhadap alam secara fundamental dan radikal. Saat ini, tidaklah cukup
hanya dengan memprioritaskan pola hidup atau gaya hidup baru tiap individu melainkan
kebiasaan masyarakat secara keseluruhan. Hal ini berarti, sangatlah perlu untuk
merumuskan etika lingkungan hidup sebagai pedoman bagi manusia untuk membangun
relasi secara baru dengan alam semesta. Setiap individu dituntut untuk setidaknya
memahami etika lingkungan hidup yang baik dan benar. Lebih daripada itu, tidak
cukup dengan memahami tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari
terutama dalam berinteraksi dengan alam sebagai akar kehidupan manusia itu
sendiri. Ikhtiar yang dapat dilakukan dapat dimulai dari hal yang paling kecil
namun dibiasakan seperti membuang sampah pada tempatnya. Alhasil, kebiasaan
kecil yang dilakukan akan menjadi budaya yang sangat baik menuju terciptanya
lingkungan hidup yang sehat bagi banyak jiwa yang tidak dapat diperkirakan
jumlahnya.
Hemat
saya, krisis lingkungan hidup global yang membanjiri dunia di hari ini pada
hakikatnya bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau
cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam
keseluruhan ekosistem. Hingga pada waktu tertentu, penyimpangan perspektif ini
memunculkan sepak terjang yang cacat terhadap alam. Kondisi ini menjadi awal
dari semua bencana lingkungan hidup yang kita alami sekarang ini. Atas dasar
itu, penataan terhadap pola perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam
menjadi prasyarat untuk dilakukan.
Kekeliruan
pandangan ini berakar dari etika antroposentrisme, yakni perspektif yang
menilik manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang
mempunyai nilai sedangkan alam dan seluruh isinya sekadar alat pemuas
kepentingan dan kebutuhan manusia. Terlebih, manusia dipandang sebagai penguasa
atas alam dan seluruh isinya yang selanjutnya berakibat pada ketamakan dalam
bentuk tindakan semena-mena terhadap alam yang tidak hanya merugikan diri
sendiri melainkan banyak orang.
Krisis
ekologi ini dapat dipadamkan dengan perubahan paradigma dalam ilmu pengetahuan
yang tidak lagi bersifat mekanistis-reduksionistis tetapi bersifat holistis,
juga ekologis. Hal ini menginterpretasikan bahwa semua ilmu pengetahuan
termasuk teknologi didefinisi pula secara moral termasuk korelasinya dengan
lingkungan hidup. Dalam hal ini, eksistensi setiap ilmu pengetahuan termasuk
teknologi harus meninjau dampaknya terhadap lingkungan. Ilmu tidak sekadar
dirumuskan tetapi perlu untuk ditelaah terlebih dahulu agar tidak berdampak
buruk bagi lingkungan sekitar. Tentu saja, eksekutor dari semua ilmu
pengetahuan adalah manusia yang diketahui sebagai akar utama adanya krisis
ekologi.
Maka
dari itu, moralitas manusia perlu dibenahi sejak dini. Pembenahan terhadap
moralitas ini memerlukan komitmen yang kemudian bersinergi menjadi sebuah
gerakan. Bukan lagi tugas WAHLI, bukan juga tugas Ahli Lingkungan Hidup,
apalagi tugas pemerintah melainkan tugas kita semua sebagai individu yang sadar
dan nyata terlihat masih berpijak di bumi ini untuk memelihara dan merawat
lingkungan hidup sebagai salah satu kekayaan yang dengan cuma-cuma diberikan
untuk menyempurnakan kehidupan makhluk hidup. Sinergi gerakan yang dapat
dilakukan dapat ditunjukkan dengan hal-hal kecil. Membiasakan diri untuk selalu
menjaga kebersihan tempat kita tinggal, menyadarkan diri sendiri untuk tetap
mengawat sampah sebelum akhirnya menemui tempat sampah, membuat pekarangan di
depan rumah, membawa kresek berbahan kain setiap bepergian untuk belanja agar
mengurangi sampah plastik dan masih banyak lagi. Kita sudah tak harus melakukan
gerakan besar-besaran yang barangkali hanya rutin sekali seminggu dilakukan dan
berdampak untuk sehari saja. Gerakan yang paling kecil ini dapat dilakukan
setiap hari dan memiliki dampak yang berkelanjutan. Tidak perlu bertanya siapa
yang harus bertanggung jawab dan apa yang lingkungan berikan kepada kita tetapi
adalah keharusan untuk kita bertanya apa yang dapat kita lakukan terhadap
lingkungan sebagai bagian dari kehidupan kita.
Krisis
lingkungan yang kian marak tentu saja
dapat diredam jika dalam kehidupan setiap individu menanamkan etika ekologi. Hal
lain yang tidak dapat disangkal adalah kegiatan atau proyek pembangunan yang
memerlukan lokasi sebagai bagian dari suatu ekosistem. Aktivitas ini tentu saja
akan memberikan dampak terhadap ekosistem itu (lingkungan). Dalam artian dampak
kegiatan ini tidak dapat dihilangkan secara total. Namun demikian, dengan
beretika ekologi maka manusia dapat memikirkan upaya dalam memaksimalkan dampak
positif dan meminimalkan dampak negatif sehingga kerusakan yang ada dapat
ditoleransi oleh lingkungan. Salah satunya, dengan pengelolaan lingkungan yang
berasaskan pelestarian lingkungan.
Pelestarian
lingkungan memuat 2 pengertian yakni, 1) yang dilestarikan adalah fungsi
lingkungan hidup itu sendiri. Suatu lingkungan dapat berubah karena adanya pembangunan,
tetapi fungsi lingkungan tetap dipertahankan. Contoh, suatu areal yang
ditumbuhi dengan berbagai jenis pohon akan digunakan untuk membangun indsutri.
Pohon-pohon yang ada boleh saja ditebang tetapi dalam perencanaan harus
disediakan areal terbuka dan lokasi untuk tanaman penghijauan. Dengan demikian,
fungsi pohon-pohon yang ditebang untuk pembangunan akan diganti oleh areal
terbuka; 2) yang dilestarikan adalah lingkungan itu sendiri, an sich. Misalnya,
keberadaan Hutan Lindung, Taman Nasional, Cagar Alam, yang harus tetap
dipertahankan (tidak boleh diganggu). Dalam hal ini, kegiatan pembangunan tidak
boleh dilakukan di lingkungan itu karena fungsinya tidak dapat dilestarikan
dengan adanya kegiatan pembangunan.
Pada
realitanya, dalam rangka memusnahkan ancaman krisis lingkungan hidup ada begitu
banyak kebijakan pemerintah namun tercatat hingga hari ini masalah lingkungan
tidak pernah berujung. Pasalnya, masih ada begitu banyak oknum yang secara
sadar dan sengaja tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Hemat saya, hal ini
terjadi karena minimnya etika/moralitas individu tentang ekologi. Tidak heran,
setiap hari media diramaikan dengan begitu banyak pembicaraan tentang masalah
lingkungan sehingga sudah menjadi hal yang lumrah terjadi. Merumuskan kebijakan
saja tidaklah cukup tetapi yang paling utama eksekusi/gerakan yang nyata dari
rumusan kebijakan yang ada. Gerakan yang tidak hanya dilakukan oleh sekelompok
orang melainkan setiap individu dituntut untuk itu. Kapan lagi kalo bukan
dimulai hari ini? Siapa lagi kalo bukan kita? Sebab sesungguhnya kerusakan alam
bukan terjadi pada kita, melainkan karena kita.
Kupang, 30 Mei 2022
Anansia Siena
Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi dalam Pembangunan Politik Indonesia
Gambar 1. Peserta SSP Batch 2 Kelompok V usai pertemuan dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nasional dan Kedepu...
-
Terkadang jalan kehidupan kita tidak dapat diterka. Berdasarkan pengalaman hidup saya, saya menemukan kenyataan bahwa banyak kejadian yang t...
-
Persoalan yang berkaitan dengan lingkungan hidup hari ini menjadi salah satu bahasan publik. Pasalnya, hampir semua media marak membicarak...
-
"Nak, Bapa pengen kamu lebih dari Bapa yang sekadar tamat SMA. Bukan karena Bapa tidak ingin s...





