Minggu, 06 November 2022

The Source of Joy


Kebahagiaan adalah cita-cita kebanyakan orang. Tidak ada yang menolak bahagia. Tidak ada yang membenci kebahagiaan. Ataukah kamu membencinya? Hemat saya, sebagian besar kita mencintai kebahagiaan. Saya ingin kembali merefleksi renungan yang disampaikan oleh Romo Adit pada Sabtu, 5 Juni 2022. Hari yang mana sebagian besar anak muda memanfaatkannya untuk nongkrong dan kenikmatan lain yang memanjakan hati dan pikiran. Tetapi hari ini Dia membawa saya untuk barang sedikit menyingkirkan diri dari kenikmatan-kenikmatan tersebut melainkan bersapa dan berdialog dengan-Nya. Adalah suatu kehormatan dan kebahagian bagi saya yang tidak punya apa-apa dan ada dengan segala keterbatasan.

Mari kembali kepada refleksi saya....

Malam itu Dia hadir. Sungguh saya merasakannya. Cinta yang tidak akan pernah dapat disaingi oleh cinta manusia. Cinta yang tulus, besar dan kekal. Saya tidak ingin menghakimi siapapun tetapi murni refleksi ini adalah tentang diri saya. Saya selalu menginginkan kebahagiaan. Bahkan, tidak sedikit untaian doa saya selalu mendambakan hal-hal yang baik. Tuhan, saya ingin sehat. Tuhan, saya ingin lulus ini dan itu. Tuhan saya ingin Engkau anugerahkan kesehatan untuk orang tua saya, dan masih banyak lagi untaian doa dan permohonan akan hal baik yang terlalu panjang untuk saya ungkapkan di sini. 

Dia tidak ingin saya berjalan pada jalan yang saya kehendaki. Sehingga kehendak saya tidak terjadi. Dengan kata lain, saya kerap menyebutnya dengan "doa saya tidak dikabulkan". Lalu, saya menangis. Menyalahkannya bahkan mencurigai Dia, Sang Empunya Kehidupan. Miris. Tetapi itu yang selalu saya lakukan. Kamu, saya dan kita acapkali datang kepada-Nya hanya ketika dilanda penderitaan. Memohon-mohon tanpa tahu malu. Dengan semena-mena kita meminta begitu banyak hal dan tanpa disadari kita menuntun Dia untuk harus memenuhi apa yang kita inginkan. Bersungut tanpa kenal lelah. Berlutut tanpa merasakan kesakitan bahkan waktu yang kerap kali hanya dihabiskan untuk kepentingan sendiri di saat-saat pahit itu sungguh hanya diberikan kepada-Nya.

Saat angan tak tergapai, kita dengan tanpa merasa bersalah menghardiknya. "Tuhan tidak adil. Tuhan tidak mencintai saya". Namun ketika kehendak-Mu adalah kehendak-Nya pula, apakah kamu datang untuk bersujud dan berterima kasih kepada-Nya? Nyatanya, kita tidak melakukannya. Situasi bahagia menghilangkan ingatan kita kepada Dia yang bekerja dan berkuasa sehingga semua-Nya terjadi. Saking bahagia, kita merayakannya tanpa menengok untuk barang semenit berucap "Engkau sungguh baik. Terima kasih, Tuhan".

Dia mengetahui yang paling terbaik untuk hidup kita. Saat doamu tidak Tuhan restui bukan karena Tuhan tidak mencintaimu sebaliknya Tuhan sungguh mencintaimu yang oleh karena cinta yang besar itu Tuhan tidak ingin kamu berjalan pada jalan tersebut karena Tuhan telah mempersiapkan jalan yang lebih baik daripada itu. Kita seringkali berpikir Tuhan menjawab doa kita sedikit terlambat tetapi tidak untuk Tuhan. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk menjawab doa kita.

Hidup dengan menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan akan memampukan kita bersukacita dalam duka. Mengucap syukur untuk setiap penolakan, luka dan penderitaan. Melihat masa depan dengan cerah dan masa lalu sebagai pelajaran yang tidak menggoyahkan tekad dan motivasi kita untuk bersukacita dalam pengharapan akan Tuhan Yesus. Karena di balik luka akan ada suka yang Tuhan telah persiapkan.

Usai hujan saja ada pelangi kan?

"Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak saya. Terjadilah padaku menurut perkataanMu" adalah doa yang sangat disarankan untuk kita sampaikan kepada-Nya. Terima kasih untuk Romo Adit dan teman2 PDKK yang selalu membantu untuk bertumbuh bersama sebagai anak muda yang takut akan Tuhan.


                                                                                                                                7 November 2022

                                                                                                                                    Anansia Siena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi dalam Pembangunan Politik Indonesia

                  Gambar 1. Peserta SSP Batch 2 Kelompok V usai pertemuan dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nasional dan Kedepu...